Rabu, 16 Maret 2011

Siapakah Kita, Bangsa Indonesia?

Kita tahu apa itu NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tetapi siapkah kita menjawab dengan tegas dan gamblang, siapakah kita, bangsa Indonesia? Alternatifnya, apabila pertanyaan tersebut kita tanyakan ke 100 orang, kita akan mendapatkan hampir 100 jawaban yang berbeda, atau sebagian jawabannya adalah bangsa yang mendiami wilayah negara Indonesia :-)

Mestinya karakter dan identitas bangsa adalah fondasi penting dalam perkembangan suatu bangsa. Pembangunan negara ini tidak akan berjalan efektif tanpa pembentukan semangat, identitas, karakter dan budaya bangsa. Mungkin karena sebab itulah, Bung Karno selalu sibuk membangun kesadaran identitas bangsa. Salah satunya, beliau tampak ingin menggusur mental inferior bangsa yang telah terlalu lama dijajah. Bung Karno menunjukkan bahwa Indonesia tidak pernah sekalipun gentar apalagi gugup tampil dalam percaturan internasional. Di antara tanda-tanda tersebut adalah penampilan Bung Karno dalam setiap kesempatan yang beratribut gaya militer lengkap dikombinasi dengan atribut khas Indonesia dan tampil penuh percaya diri. Poros Jakarta – Peking pernah dibangun untuk memperkuat Indonesia dalam memimpin gerakan NEFO (New Emerging Forces) yang sempat membuat gerah dua kekuatan besar dunia saat itu, Amerika Serikat plus sekutunya serta Uni Sovyet. “Ganyang Malaysia” pernah berkumandang, menanggapi keinginan Malaysia untuk menggabungkan Kalimantan, Brunei dan Sabah-Serawak dalam Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Pada saat itu, dikenal kalimat yang menggugah semangat kebangsaan Indonesia: “Ini dadaku, mana dadamu?”. Tidak ada rasa gentar menghadapi adanya back up dari Inggris dan sekutu besarnya di belakang Malaysia. Masih banyak contoh lain bagaimana beliau menggugah rasa bangga menjadi bangsa Indonesia.

Entah ini hanya perasaan saya atau bukan, tetapi kini saya kurang merasakan adanya fokus dan sentuhan dari para pemimpin bangsa dan para elit politik negeri ini dalam membangun semangat, identitas dan karakter bangsa. Mungkin akhir-akhir ini panggung politik yang penuh dengan hingar bingar permainan kekuasaan cukup menyita waktu. Mulai dari kasus Bibit S Rianto – Chandra M Hamzah atau yang juga sering disebut Kriminalisasi KPK, kasus bail out Bank Century, sampai kasus dugaan penggelapan pajak grup perusahaan Bakrie.

Justru “wisdom of the crowd”-lah yang sering kita dengar dan rasakan bisa membangun semangat, identitas dan karakter bangsa. Pasti kita masih ingat bagaimana gerakan horizontal di masyarakat Indonesia dari berbagai jajaran dan media komunikasi berkontribusi besar dalam perkembangan kasus Bibit-Chandra, Prita Mulyasari, atau bahkan kontrol publik dalam kasus Bank Century atau ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia beberapa waktu yang lalu. Salut buat Daniel Mananta yang mengekspresikan semangat kebangsaannya melalui desain kaos-kaos berlabel DAMN! I Love Indonesia. Salut juga buat para inspirator gerakan Kami Tidak Takut! yang menunjukkan sikap anti terorisme di Indonesia. Semoga semua ini bukanlah indikasi bahwa sekarang rakyat Indonesia sudah tidak bisa lagi mengandalkan pada pimpinan dan jajaran elite dalam membentuk karakter dan menjaga identitas kebangsaan.

Lalu sebetulnya siapakah kita, bangsa Indonesia? Salah satu faktor penting yang membentuk identitas tentu saja adalah karakter. Dan untuk membentuk karakter, saya kira bangsa ini masih memerlukan arahan dan dukungan pemerintah. Let me try to give a simple example. Kita adalah bangsa yang toleran. Karakter ini bisa menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan bangsa, apalagi Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang suku, ras, bahasa, agama dan sejarah.

Tetapi sifat toleran bisa menjadi salah satu sebab mengapa cukup sulit membentuk budaya disiplin. Kita cukup toleran terhadap berbagai perilaku tidak disiplin: membuang sampah sembarangan, tidak tepat waktu, parkir tidak pada tempatnya, merokok di area publik atau disiplin berlalu lintas hanya kalau ada polantas.

Jadi, kembali saya coba tanyakan lagi…… siapakah kita, bangsa Indonesia? Hmmm….. let me think for a while………………………… See, I’ve told you that we’re Indonesian very tolerant. I believe that in your deepest mind you do not mind that you give some time to think :-) Okay, let me start with this one: Indonesia adalah bangsa yang berhutang kepada para pahlawan, pejuang dan pendiri bangsa yang membebaskan dari penjajahan. Indonesia adalah bangsa yang religius. Mungkin bangsa Indonesia mempunyai god spot yang kuat di bagian otaknya. Menurut beberapa neuropsychologist, god spot adalah bagian di otak yang memproses pengalaman spiritual. Karakter yang turut menentukan orientasi bangsa ini dalam menjalani kehidupan pribadi dan kehidupan berbangsa. Karakter yang memberi kesempatan tumbuh dan berkembangnya berbagai kepercayaan dan agama. Keragaman yang perlu diimbangi dengan sikap toleran dan pengertian. Karakter ini pula lah yang mungkin menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang pemaaf. Indonesia adalah bangsa yang diberkahi kreativitas, yang tertuang dalam beragam seni dan budaya, yang membuat decak kagum dan bahkan rasa cemburu dari berbagai bangsa sehingga ada yang mencoba mengakuisisi kekayaan seni dan budayanya.

Bangsa Indonesia adalah pewaris kepulauan terbesar di dunia: Nusantara, dan yang harus bertanggungjawab dalam kelangsungan hidup di dalamnya, berjaya di darat, laut dan udara. Dan kita tidak akan bisa menjaganya tanpa bersatu, tanpa semangat, atau tanpa identitas kebangsaan yang jelas. Indonesia adalah….. apalagi ya…. Tolong bantu saya ya……


sumber : kompasiana.com

tugas minggu ke-3 (Indonesia: Etimologi dan Budaya)

(Indonesia: Etimologi dan Budaya)


Negara ini bernama Indonesia, begitulah jawabannya apabila ada orang asing tersesat dan menanyakan kepada penduduk. Terlepas dari mereka bisa membaca atau tidak, bisa berhitung atau tidak, rakyat jelata atau kaum intelek . Kesimpulannya, setiap manusia yang tinggal di negara ini tahu bahwa negara ini bernama Indonesia.

Tetapi ketika seseorang bertanya apakah arti Indonesia?, siapa yang memberi nama negara ini Indonesia? Saya yakin mulai dari anak kecil sampai orang tua banyak yang lupa atau bahkan tidak mengetahuinya. Ironis memang, kita lahir, tinggal, mencari rejeki, beranak pinak atau mungkin merusak alamnya, tetapi kita tidak mengetahui apa dan bagaimana Indonesia ini. Kalau saya menanyakan kepada mereka mengapa tidak tahu, mereka menjawab “Jangankan memikirkan asal-usul Indonesia, kita mencari rejeki untuk makan tiap hari saja susahnya minta ampun…”, jawaban yang tidak mengada-ada buat saya. Sayapun demikian sudah banyak pelajaran sejarah Indonesia yang saya terima waktu disekolah dulu dan saat ini hanya tinggal bayang-bayang kelabu, yang kian hari kian memudar. Tetapi itulah tantangan untuk saya sebagai orang tua 2 anak, saya harus tetap mengingat sejarah akan bangsa ini. Supaya ketika suatu hari nanti anak-anak saya bertanya tentang Indonesia saya bisa memberikan cerita yang ilmiah kepada mereka. Supaya mereka tidak usah jauh-jauh bersekolah keluar negeri hanya untuk mengetahui asal-muasal negaranya.